Sahabat Yang Kekal
Karya : Pipit Larasati
Bagiku, dia adalah sebuah anugrah yang luar biasa di dalam hidupku. Dia adalah orang yang selalu ada di saat kusenang dan susah. Dia bagaikan gambaran “sang pencipta” di hidupku. Dia mampu merubah diriku menjadi seorang yang tegar dalam menjalani kehidupan.
Namun, kini semua hanyalah mimpi belaka. Segalanya berubah seketika pada saat kejadian itu berlangsung. Dia yang awalnya kukenal ramah dan ceria setiap hari, tiba-tiba berubah menjadi seorang yang pendiam.
Pagi itu aku hendak menyapanya. Biasanya ia begitu ramah menjawab sapaanku, tapi kali ini ia tidak sama sekali menjawab sapaanku.
“Pagi Rob!”
Ia hanya terdiam di tempat duduknya. Sebagai sahabat, aku tak tega bila melihat seorang sahabatku termenung sendiri di kelas.
“Eh, lo tuh kenapa sih? Ga biasanya gue liat lo jadi diem begini! Ada masalah? Cerita napa! Sapa tau kan gue bisa bantu lo,”
“Maaf Pit, gue ga bisa cerita sekarang. Mungkin kalau waktunya tepat gue akan cerita,” jawabnya ketika aku menanyakan apa yang terjadi pada dirinya.
***
Hari-hari pun terus berganti. Wajahnya yang dulu ceria kini telah berubah menjadi suram. Hari-harinya di sekolah ia lalui dengan duduk termenung di pojok kelas.
Sampai pada akhirnya ia mencoba terbuka pada masalahnya, dan menceritakannya padaku. Sepulang sekolah ia menghampiriku yang hendak menuju pulang.
“Pit, gue mau ngomong sama lo. Gue cape kalo harus mendam hal ini dari sahabat gue,”
“Ngomong aja kali. Emang lo mau ngomong apa si?”
“Sebenarnya gue di fonis penyakit hepatitis. Dan terakhir gue cek up, dokter bilang kalo penyakit yang gue derita ini udah kronis,”
“Jadi itu yang buat lo belakangan ini sering diem di kelas?”
“Iya Pit, maafin gue ya!”
“Rob, dulu lo pernah bilang ke gue, “sebesar apapun masalah yang kita hadapin, kita itu harus tegar dan optimis dalam ngejalanin itu!” dan sekarang kenapa lo sendiri yang sekarang jadi pesimis gitu sih?”
“Mungkin bagi lo gue munafik karena udah makan kata-kata gue sendiri, tapi ada alasannya gue seperti itu!”
“Alasan? Apa alasan lo?”
“Penyakit yang gue derita udah cukup kronis, semua orang yang punya penyakit parah kaya gue juga pasti bakalan pesimis,”
“Oke, gue terima alasan lo. Tapi, Rob, sebagai sahabat gue gak mau kalo harus ngeliat sahabat gue jadi orang yang pesimis. Lo harus yakin, setiap masalah ada jalan keluarnya. Dan lo juga harus yakin kalo penyakit lo ini ada penyembuhnya,”
***
Sehari setelah ia jujur tentang apa yang terjadi padanya, ia tak masuk sekolah. Karena ke khawatiranku pada sahabat karibku itu, aku memutuskan untuk mampir kerumahnya sepulang sekolah.
Kriiiiiiingggg . . . Kriiiiiing . . . Kriiing. Bel sekolah pun bunyi. Aku pun bergegas pergi kerumah sahabatku itu.
“Permisi . . . Robby, Robby!”
“Maaf non, mas Robbynya gak ada tuh!” kata seorang pembantu.
“Gak ada? Kira-kira kemana ya?”
“Mas Robby semalam di bawa kerumah sakit!”
“Yaudah, makasih ya mba. Permisi!”
Dalam perjalanan pulang menuju rumah aku memikirkan keadaan sahabatku. Sampai di rumah aku bercerita tentangnya kepada bapak dan ibuku.
Hampir setiap malam hari, aku dan keluargaku menjenguk Robby di rumah sakit. Namun, apa boleh di kata. Bila yang kuasa sudah menghendaki segala sesuaatunya terjadi pun semua akan terjadi.
Keadaan Robby tak kunjung membaik. Badannya yang semula terlihat sehat, kini menjadi terlihat sangat buruk. Keadaan perutnya yang membuncit dan warna tubuhnya yang kekuning-kuningan membuat aku tak kuasa menahan tangis.
“Lo harus kuat Pit! Dia sahabat lo, jangan pernah sesekali lo netesin air mata di depan dia. Lo harus buat dia bangga sebagai sahabat di hari-hari terakhirnya. Di kelas dia bilang sama kita semua untuk jangan pernah nangis di depannya, dan sekarang lo harus buktiin kalo lo mampu jadi seperti itu buat dia,” kata seorang temanku yang menghampiri aku dan menguatkan aku dari kesedihan yang kualami.
Aku tak menjawab perkataan temanku. Yang kulakungan hanyalah berdiri disamping sahabatku dengan mata yang berkaca-kaca.
Malam harinya, semua keluarga dan orang-orang tedekat Robby hadir di rumah sakit.
“Pit, makasih selama ini lo dah mau jadi sahabat gue yang penuh kekurangan ini. Mungkin dulu gue pernah janji untuk jadi sahabat selamanya dan gak kan pernah ninggalin lo,”
“Lo gak kan ninggalin gue kok! Kan lo udah sembuh sekarang,”
“Ga usah nutup-nutupin gitu, Pit. Gue tau kok kalo waktu gue tinggal malam ini aja. Kita akan selalu jadi sahabat. Meski gue jauh, tapi lo harus inget kalo gue akan selalu ada di hati lo. Dua pesan gue buat lo,”
“Apa?”
“Jadilah diri lo sendiri, tetep tegar dalam menjalani hidup. Lo harus yakin suatu hari nanti lo akan dapet pengganti gue yang lebih baik lagi. Dan yang kedua, lo harus jadi cewek yang kuat. Jangan pernah netesin air mata lo cuma buat hal yang sia-sia. Di saat lo ada masalah besar barulah di saat itu lo ngeluarin air mata lo sebagai pelampiasan. Jangan jadi cewek yang cengeng. Gue ga mau punya sahabat yang cengeng,”
“Hehehe, iya! Gue janji akan jadi sahabat lo yang kuat, malahan buat lo gue kasih dobel jadi super kuat dah gue” jawabku meyakinkannya sambil menahan kesedihan dalam hatiku.
Tak lama, Robby menghembuskan nafas terakhirnya. Aku pun keluar dari ruangan itu dan duduk di luar ruangan dan melepaskan air mataku yang tertahan dari kesedihan karena harus mengiklaskan sahabatku untuk kembali ke hadapan-Nya.
Setelah puas menangis, aku mencoba menguatkan diriku. Dan berkumpul dengan yang lainnya di dalam ruangan untuk mendoakan kepergian Robby. Dan esoknya di makamkan di Sleman tempat kelahirannya.
***
13 Februari 2009, pukul 02.09, tepat pada tanggal itu dan waktu itu akan kukenang sebagai hari yang sangat membanggakan. Kerena aku bisa menjadi seorang yang tegar dan teristimewa sebagai sahabat seorang DIA.






